KEBIJAKAN OUT-REACH DALAM PENANGANAN MIGRAN DI KOTA MAKASSAR

Umiyati Haris, Suryadi Lambali, Sukri Sukri, Achmad Zulfikar

Sari


Permasalahan implementasi kebijakan dalam menangani pengungsi di Kota Makassar tidak berjalan secara maksimal meskipun 3 dari 5 program kebijakan Out-Reach berhasil diimplementasikan. Faktor kepentingan aktor pemkot mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara yang digunakan oleh pemerintah Kota Makassar dalam menerapkan kebijakan Out-Reach dan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan dalam menangani pengungsi di Kota Makassar. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara langsung dari staf instansi pemerintah kota, pengungsi di Kota Makassar, dan masyarakat lokal. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus. Adapun teori yang digunakan adalah neo-institusional dengan konsep aktor dan kepentingan, kebijakan dan implementasi kebijakan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktor walikota Makassar membentuk pelaksana kebijakan Out-Reach yang hanya melibatkan beberapa instansi pemerintah, seperti Dinas Sosial; Dinas Pendidikan; Dinas Kesehatan; Camat hingga Lurah. Jalur koordinasi dalam mengimplementasikan kebijakan Out-Reach juga menunjukkan ada lembaga non-institusi pemerintah yang berperan sebagai mitra kerja Dinas Sosial, dan komunitas masyarakat yang dilibatkan dalam melaksanakan program-program kebijakan Out-Reach dalam menangani pengungsi di Kota Makassar. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan Out-Reach yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yaitu adanya pembentukan citra oleh aktor walikota Makassar untuk menjadi role model dalam menerapkan kebijakan penanganan pengungsi di tingkat daerah; keterlibatan aktor non-institusi pemerintah. Adapun faktor penghambat yaitu: jalur koordinasi tidak terstruktur; dan sosialisasi tidak menyeluruh. Disimpulkan bahwa pelaksanaan kebijakan Out-Reach melibatkan aktor non-institusi pemerintah selain dari internal institusi yang telah dibentuk oleh aktor walikota Makassar, serta dalam pelaksanaan kebijakan hanya tiga dari lima program yang berhasil diimplementasikan. Diharapkan jalur koordinasi dan komunikasi yang terstruktur dari walikota hingga ke tingkat lurah dalam mencapai keberhasilan implementasi kebijakan.


Kata Kunci


Kebijakan Out-Reach; aktor institusi pemerintah; aktor non-institusi pemerintah; role model; implementasi kebijakan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ajat H. S. (2004). Pengungsi dalam Kerangka Kebijakan Keimigrasian Indonesia Kini dan yang Akan Datang. Indonesian Journal of International Law, Vol. 2 No. 1 Oktober.

Agus Salim. (2006). Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Edisi Kedua. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Agustino L. (2008). Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.

Andistan, Muhammad Abdul Aziz Putra dan Achmad Zulfikar. (2018) “Indonesian Government Challenges in Ratification of the International Convention on Refugees”, The Journal of Islamic Studies and International Relations, 3(1), pp. 31-44. Available at: http://jisiera.insiera.org/index.php/jisiera/article/view/3.

Budi.(2008). Orientasi Aktor dalam Perumusan Kebijakan Publik. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th. XXI. No. 2, April-Juni 2008, 115-130.

Fajar S. dan Tri H. W. (2016). Pembiaran Pada Potensi Konflik dan Kontestasi Semu Pemilukada Kota Blitar: Analisis Institusionalisme Pilihan Rasional. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 1 (2): 136-153.

Kerangka Kerja Umum Penanganan Pengungsi dan Pencari Suaka di Kota Makassar. (2016). Diturunkan dari MoU Nota Kesepahaman antara Walikota Makassar dan International Organization fo Migration dalam Penanganan Pengungsi dan Pencari Suaka No. 180.474.32/26/BKS/IX/2015 (Walikota) dan IDN/LCOO/ME0252/2015 (IOM) pada tanggal 21 September 2015.

Merilee G.(1980). Politics and Policy Implementation the Third World.New Jersey: Priceton University Press.

Miriam B. (2008). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.

Peters B.G. (2011). Institutional Theory in Political Science: The New Institutionalism. USA: Bloomsbury Publishing.

Rulam A. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet. ke-1. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Thobias M. A.(2003). Kebijakan Pemukiman Kembali Pengungsi di Perbatasan Indonesia-Timor Leste (Studi Kasus: Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur). (Tesis). Semarang: Universitas Diponegoro.

Robyn C. Sampson, Sandra M. Gifford & Savitri Taylor (2016) The myth of transit: the making of a life by asylum seekers and refugees in Indonesia, Journal of Ethnic and Migration Studies, 42:7, 1135-1152, DOI: 10.1080/1369183X.2015.1130611




DOI: http://dx.doi.org/10.22303/pir.3.2.2019.185-200

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by4.footer##

Kantor Redaksi Jurnal Power in International Relations (PIR) . Gedung LPPM Lt2, Kampus Universitas Potensi Utama. Jl. K.L. Yos Sudarso Km 6,5 No.3-A Telp. (061) 6640525 Ext. 214 Tanjung Mulia Medan 20241

 

Qries Qries Qries

 

Creative Commons License
This work is licensed under a
Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.