HUKUM MULTI AQAD DALAM TRANSAKSI SYARIAH

Raja Sakti Putra Harahap

Sari


Status hukum multi akad belum tentu sama dengan status hukum dari akad-akad yang membangunnya hukum multi akad tidak bisa  semata dilihat dari hukum akad-akad yang membangunnya. Bisa jadi akad-akad yang membangunnya adalah boleh ketika berdiri sendiri, namun menjadi haram ketika akad-akad itu terhimpun dalam satu transaksi. Meski ada multi akad y.ang diharamkan, namun prinsip dari multi akad ini adalah boleh dan hukum dari multi akad diqiyaskan dengan hukum akad yang membangunnya. Artinya setiap muamalat yang menghimpun beberapa akad, hukumnya halal selama akad-akad yang membangunnya adalah boleh. Mayoritas ulama Hanâfiyah, sebagian pendapat ulama Malikiyah, ulama Syafi’iyah, dan Hanbali berpendapat bahwa hukum multi akad sah dan diperbolehkan menurut syariat Islam. Bagi yang membolehkan beralasan bahwa hukum asal dari akad adalah boleh dan sah, tidak diharamkan dan dibatalkan selama tidak ada dalil hukum yang mengharamkan atau membatalkannya.

Kata Kunci


Multi Akad; Hukum Akad; Syariat islam

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Abi Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Mugirah ibn Barda Zahibul Bukhari Ja’fani, Shahih Bukhari, Cet. I, Juz III, Kitab al-Ilmiah, (Beirut, Libanon, 1992).

Abu Bakar Ahmad al-Râzi al-Jashash, Ahkâm al-Qur'an, j. 2, (Beirut: Dâr al-Fikr, tt.), cet. ke-1.

Adib Bisri Musthofa, Tarjamah Muwatha Al-Imam Malik R.A Jilid II (Semarang:As-Syifa, 1993)

Ahmad Warson Munawwir. Kamus Al-Munawwir Arab – Indonesia Terlengkap. (Surabaya : Pustaka Progresif, 1997).

Al-Tahânawi, Kasysyâf Ishthilâhât al-Funûn, (Beirut: Dâr Shâdir, tt.), J. 2.

Al-Zuhaili. Al-fiqh al-islâmiwa adilatuhu Juz 4. (2004 ) hal 2918

Hasanudin Multi Akad Dalam Transaksi Syariah Kontemporer Pada Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia, (Ciputat : UIN Syahid, 2009).

Ibn Rusyd. Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid. Juz II (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1981).

Idhahul Masalik Ila Al-Qawa'id Al-Imam Malik jilid hal 173

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, j. 2, (Beirut: Dâr al-Ihyâi al-Turâts al-'Araby, 1414 H), cet. ke-3.

Imam Mâlik ibn Anas, Al-Mudawwanah al-Kubra, juz. 4, (Beirut: Dâr al-Shâdir, 1323 H), cet. ke-1

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, j. 2, (Beirut: Dâr al-Ihyâi al-Turâts al-'Araby, 1414 H), cet. ke-3, hal. 178

Muhammad Baqi bin Yusuf, Sharih Ad-Zharqani ala Muwatha Imam Malik, Juz III, ( Beirut:Darul Kitab alamiyah, 1972).

Munawwir. Kamus Al-Munawwir 1997 hal 209

Nazih Hammad, Al-'Uqud Al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islami, hal. 7

Syafi'i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, 2007 hal.107




DOI: http://dx.doi.org/10.22303/al-qasd.1.1.2016.40-51

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by4.footer##

Kantor Redaksi Jurnal Al-Qasd: Islamic Economic Alternative. Gedung LPPM Lt2, Kampus Universitas Potensi Utama. Jl. K.L. Yos Sudarso Km 6,5 No.3-A Telp. (061) 6640525 Ext. 214 Tanjung Mulia Medan 20241